Wednesday, March 16, 2011

Sebuah Renungan Kecil

Lucu ya...
Kalau kita selalu mengeluh akan beratnya beban ini...
Sedangkan bumi tidak pernah sekali pun protes akan gunung-gunung dan bebatuan yang ada di hamparannya...



Aneh ya...
Kalau kita selalu berharap kebaikan kita akan selalu dibalas...
Padahal mentari selalu setia memancarkan sinarnya untuk kita, tanpa sekalipun mengharap balas jasa...




Unik ya...
Kalau kita selalu menyesal telah dilahirkan...
Padahal rerumputan selalu berbahagia karena telah dilahirkan, karena mereka memberi kehijauan pada tanah yang gersang, walaupun untuk itu mereka rela untuk diinjak, dipangkas, atau dicabut hingga akar-akarnya...



Heran ya...
Kalau kita selalu merasa kekurangan...
Sedangkan saudara kita di Palestina saja selalu bersyukur atas kurma yang dimakannya hari ini...



Aneh ya...
Kalau kita surut melangkah karena kesedihan kita...
Namun hutan selalu optimis menumbuhkan pohon-pohonnya, walaupun ia tahu, pohon-pohonnya akan terus ditebang untuk memenuhi keserakahan perut manusia...



Alangkah lucunya...
Jika kita selalu merasa terpenjara dalam hidup ini...
Padahal burung dalam sangkar itu selalu bernyanyi untuk kita, tak peduli apapun keadaannya...



Alangkah nafinya...
Jika kita memandang remeh gemersik dedaunan yang mengganggu tidur siang kita...
Bahkan kita belum tentu bisa berdzikir seperti itu kepada-Nya...



Alangkah herannya...
Melihat mereka tak lagi dekat pada Rabb-nya...
Padahal jiwa mereka selalu dekat, bahkan lebih dekat dari urat lehernya, dan mereka tak pernah ingat akan hal itu...



Astaghfirullah...
Betapa banyak kita mengeluh dalam hidup ini...
Sedangkan alam selalu sabar, ikhlas dalam menjalani peran yang telah disuratkan kepada mereka...
Bumi menghampar, gunung menjulang, langit membentang, bintang bertaburan, membawa dzikir dari seluruh semesta...
Sedangkan kita hanya bisa duduk termangu di sini, lupa akan segalanya...



Astaghfirullah...
Lupa akan dosa ini...
Betapa banyak kita menyalahkan sesuatu atas dosa mereka...
Padahal dunia tak pernah murka atas setumpuk dosa yang kita lakukan pada mereka...

Astaghfirullah..
Betapa hinanya diri ini...
Melihat alam selalu ingat pada Rabb-nya...
Sedangkan kita...
Selalu terlupa dalam kesibukan dunia yang fana dan penuh fatamorgana...

Astaghfirullah...
Ampuni dosa ini, ya Allah...



Rabbana atina fid-dunya hasanatan wa fil 'akhirati hasanatan waqina 'adhaban-nar...
Amin...

Monday, March 14, 2011

Utopia in the Seaside

Saudaraku, bayangkan jika anda berada di tepi pantai, dengan hamparan pasir yang putih, langit biru yang cerah, semilir angin yang menyejukkan jiwa, dan luasnya lautan biru yang membentang di depan kita. Bayangkan jika alunan ombak lembut menggelitik kaki kita, matahari mulai terbenam ke peraduannya, dan malam harinya dihabiskan dengan membuat api unggun sembari menghabiskan waktu dengan gemerlapnya bintang-bintang yang menginspirasi hingga ke dalam hati. Bulan purnama bersinar terang di langit, dan anda melihat laut kini berwarna keperakan, dan bimasakti pun terlihat, menambah indah malam ini. Subhanallah...

Esok paginya, engkau pun terbangun, dan kembali mendapati dirimu di pantai itu. Engkau menghabiskan waktu lagi disana, dan engkau mulai menikmati hari-harimu dan memulai sebuah pengalaman baru. Darahmu mendesir ketika menemukan sebuah petualangan, dimana ada sebuah gua purba berusia ribuan tahun, penuh dengan stalaktit dan stalagmit yang menghiasi langit-langit gua, gemuruh sungai bawah tanah yang mengalir di bawahnya, dan ketika engkau menyusuri ujung dari gua ini, engkau menemukan sebuah relief masa lalu. Sebuah monolith yang diukir dengan sempurna, tetapi menceritakan sebuah kisah yang mengerikan. Bencana akan datang menghampirimu, menyadarkanmu. Dan engkau akan tersentak, bahwa engkau berada dalam mimpi, dalam sebuah utopia, dan engkau pasti akan kecewa. Bahwa semua itu palsu, palsu! Tidak lebih dari impian semu!

***

Saudaraku, engkau pasti pernah merasakan hal-hal seperti ini. Suatu ketika, engkau pasti memiliki impian seperti ini. Engkau membayangkan bahwa dirimu berada dalam impianmu, berada dalam pusaran mimpi, impian, dan harapan. Dan semilir angin sejenak akan membawamu melayang, tetapi segera jatuh begitu desiran itu hilang. Engkau segera akan berpikir, ah, tidak ada gunanya. Toh aku akan tetap seperti ini, terjebak di dunia ini, terbenam dalam kepalsuan setiap orang yang berdiri tepat di sampingku. Toh aku sudah ditakdirkan untuk menjadi seperti ini, mengikuti aluran waktu, dan lauh mahfudz telah mencatat semua yang akan terjadi di masa depan, bahkan sehelai daun pun tidak ada yang luput dari kuasa-Nya. Tapi, saudaraku...

Masih ingatkah ketika engkau mendapatkan seekor ulat bulu, padahal engkau mengharapkan seekor kupu-kupu cantik terbang menghiasi kamar indahmu? Masih ingatkah engkau ketika engkau mendapatkan sebuah kaktus berduri, walaupun engkau merengek meminta setangkai bunga yang segar? Engkau pasti akan berpikir, alangkah tidak adilnya. Engkau akan merasa semua menjadi palsu, penuh kebusukan. Engkau putus asa, melihat dunia begitu monokrom, dan keindahan laut yang diceritakan tadi menjadi hampa. Engkau merasa, takdir begitu kuat mencengkerammu, sehingga rasionalitas menjadi tak pantas, Allah pun menjadi sasaran kemarahanmu, kefuturan menghampiri, dan ghirahmu padam, terbenam bersama gelapnya malam...

Dan engkau pun akan melihat, kaktus itu berbunga, membawa jiwa serasa terbang ke surga, dan ulat itu bermetamorfosis, menjadi seekor kupu-kupu yang indah sekali...

Itu lah takdir yang kita sesali tadi. Kita selalu berharap yang kita inginkan, sedangkan Allah memberi apa yang kita butuhkan. Kita selalu berharap pantai tadi selalu menjadi bagian hidup kita, tetapi Allah menyadarkan kita bahwa itu hanya fatamorgana semata. Alangkah tidak adilnya. Tapi itulah rencana-Nya, indah pada waktunya. Walaupun sempat sedih dan kecewa, ingatlah, pantai itu akan selalu menjadi milik kita, dan semua impian itu akan menjadi indah pada waktunya, insya allah...

Dan saudaraku, ketika engkau merasa sedih dan kecewa...
Iingatlah, bahwa Ia sedang merajut yang terbaik untuk kehidupan kita...

(dikutip dari taushiah seorang sahabat. syukran...)

Wednesday, March 9, 2011

Filosofi: Antara Langit dan Bumi

Aku merindukan ide-ide kebebasan! Aku ingin berlari bersama angin, melewati batas-batas mimpi, dan terbang dengan bebasnya, tanpa satu pun yang menghalangi!

Sayangnya, ada satu fakta yang membuatnya menjadi tidak mungkin.
Kita masih berada di bumi!

Mengapa?
Mengapa kita harus selalu terkurung di bumi ini? Alangkah tidak menyenangkan! Setiap hari kita hanya terpaku di sini, menyelesaikan rutinitas yang anehnya, selalu sama! Entah itu kuliah, jualan, belajar, sedikit jalan-jalan di akhir pekan... tak ada lagi. Minggu berganti, bulan dan tahun pun ikut berganti. Tak ada yang berubah. Tetap saja kita akan terpaku dengan rutinitas yang membosankan itu. Kita seakan terikat dengan bumi. Stick with it. Kita berjalan setiap hari, tanpa bisa melihat keindahan langit pagi karena takut akan terlambat, tidak dapat absen pagi. Siang harinya, kita pun terpaku pada istirahat siang kita yang amat sejenak, karena setumpuk tugas telah menunggu lagi untuk diselesaikan. Sore hari pun kita tidak bisa menikmati indahnya langit karena kita terlalu sibuk untuk bergegas pulang karena masih ada pekerjaan yang mesti diselesaikan hari ini dan kita pun terlupa untuk menikmati indahnya kemilau langit di malam hari. Bulan beredar, dan tak terasa mentari mulai memancarkan sinarnya. Satu lagi hari baru yang penuh dengan rutinitas yang membosankan...

Bahkan, kita terkadang tidak sadar tentang rutinitas ini . Kita bahkan lupa bahwa rutinitas itu adalah sebuah rutinitas. Kita terlalu sibuk untuk memikirkan itu semua, bukan? Bahkan, di sela-sela perjalanan kita, kita terlalu sibuk untuk mengucapkan syukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya yang telah diberikannya pada kita. Kita lupa akan dzikir burung-burung dan pepohonan di sekeliling kita... Lupa akan semilir angin yang bertiup menerpa raga ini, memberi kesejukan hingga ke dalam hati. Lupa segalanya.

Alangkah indahnya jika kita menjadi salah satu dari mereka. Kita akan berlari, terbang, menembus alam ini. Kita bebas menikmati indahnya mentari, semilir angin, dan birunya langit dan samudera. Sayangnya, keindahan alam itu seakan sirna karena ada satu hal yang membuat itu kembali gagal dinikmati dengan sempurna..

RUTINITAS!!!

Entah mengapa, kaki kita seakan tidak bisa lepas dari tanah ini. Sekali kita melepasnya, seketika itu juga bumi akan menariknya kembali. Hanya roket yang mampu melepaskan diri dari cengkeraman itu. Namun, apakah itu menyelesaikan masalah? Tidak, bahkan roket diciptakan hanya untuk mengantarkan manusia-manusia itu ke bulan, lalu ia akan hancur dengan segera. Masih banyak lagi kesibukan yang akan menunggu kita, kesibukan lagi, dan lagi. Rutinitas dan kesibukan agaknya telah menjadi sesuatu yang anehnya, akan membuat seseorang itu menjadi aneh jika tidak mendapatkannya. Aneh, memang.

Saudaraku, ingatkah engkau, bahwa dalam setiap kesulitan itu ada kemudahan? Mungkin kita pernah sedih dan kecewa atas rutinitas yang terus menerpa kehidupan kita. Bukan bermaksud mematahkan semangat atau apa, tetapi kebebasan hanya akan kita peroleh di langit. Memang, saat dimana amal kita dihisab, dan jembatan shirattal mustaqin telah dibentangkan, dan itulah kesibukan kita yang terakhir, insya allah. Lalu segala kesibukan yang pernah kita rasakan akan sirna, dan kesibukan yang baru akan segera hadir: menikmati kebebasan kita.

Tapi, jalan itu masih panjang. Dan bersyukurlah karena kita masih bisa menikmati semua kesibukan itu, karena apa? Kita masih bisa bersujud di akhir malam, menitikkan air mata, berharap akan suatu tempat dimana kebebasan itu akan datang menghampiri. Dan saudaraku...

ingatlah...
perjuangan ini masih panjang...
masih banyak yang harus kita lakukan...
apakah kita rela begitu saja...
melihat begitu banyak saudara kita yang menderita di luar sana?
menyaksikan banyak anak-anak Palestina yang dibantai oleh yahudi durjana?
dan bersenang-senang, sementara tetangga kita masih menderita karena kehabisan bekal untuk hidupnya...

Saudaraku, inilah mengapa bumi masih mencintai kita. Bumi bukan membenci kita karena membiarkan kita terus melekat bersamanya, membiarkan penderitaan terus menghampiri kita. Bumi melakukan itu karena ia ingin kita yang membuat untaian harapan untuk mereka, mereka yang tak tahu makan apa esok hari. Setelah itu, saudaraku...

bersiaplah..
karena kebebasan yang sesungguhnya akan datang
di suatu tempat dimana tidak ada lagi kesibukan berdatangan
tempat dimana kita akan merayakan kehidupan, setelah penderitaan bertahun-tahun dengan air mata dan perjuangan
menembus batas mimpi dan angan-angan
membuka cakrawala, mengais masa depan tanpa sesuatu yang gagal menjadi harapan
itulah dia, saudaraku
suatu tempat yang terus kita impikan di akhir waktu
dan tempat kita akan berkumpul kelak, setelah mengikis peradaban semu...

kumpulkan kelak ya Robb, di surga Mu...

(Post ke tiga. alhamdulillah..)